Namlea — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Namlea terus memperkuat pembinaan kepribadian warga binaan melalui program bimbingan rohani berbasis keagamaan. Bersama Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Buru, kegiatan pembinaan kerohanian bagi warga binaan beragama Kristen dan Hindu kembali digelar pada Kamis (5/2).

Program ini menjadi bagian penting dalam upaya membentuk karakter, memperbaiki perilaku, serta menanamkan nilai-nilai moral dan spiritual bagi warga binaan. Pembinaan dilakukan dengan pendekatan persuasif dan humanis, sehingga materi keagamaan dapat diterima secara optimal.

Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Namlea, Mustafa La Abidin, menjelaskan bahwa pihaknya secara rutin menggandeng penyuluh agama dari Kemenag Buru untuk memberikan bimbingan sesuai keyakinan masing-masing warga binaan.

“Warga binaan di sini memiliki latar belakang agama Islam, Kristen, dan Hindu. Karena itu, setiap agenda pembinaan kami berkoordinasi dengan Kemenag Buru agar penyuluhan diberikan langsung oleh penyuluh yang kompeten sesuai agama mereka,” ujar Mustafa.

Penyuluh agama Hindu Kemenag Buru, Pipin Jujun Pratiwi, menambahkan bahwa materi pembinaan dirancang bertahap agar warga binaan semakin memahami ajaran agamanya. Menurutnya, terjadi perkembangan signifikan sejak program ini berjalan.

“Beberapa bulan terakhir kami melihat kemajuan yang cukup baik. Warga binaan Hindu yang sebelumnya masih awam kini mulai memahami tata cara beribadah dan ajaran dasar Hindu. Sebagian dari mereka sebelumnya hanya mengenal praktik adat, sehingga pembinaan ini membantu memperdalam pemahaman spiritual mereka,” jelas Pipin.

Sementara itu, Kepala Lapas Namlea, Muhammad M. Marasabessy, mengapresiasi konsistensi Kemenag Buru dalam mendukung program pembinaan kerohanian. Ia menilai sinergi kedua lembaga telah memberikan dampak positif terhadap perubahan sikap dan perilaku warga binaan.

“Kerja sama yang solid antara Lapas Namlea dan Kemenag Buru menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pembinaan kerohanian mampu membawa perubahan pada sikap dan budi pekerti warga binaan. Kami berharap nilai-nilai agama yang mereka pelajari dapat dipertahankan hingga kembali ke masyarakat,” ungkap Marasabessy.

Melalui pembinaan berkelanjutan ini, Lapas Namlea menegaskan komitmennya untuk tidak hanya menjalankan fungsi pemasyarakatan, tetapi juga membekali warga binaan dengan fondasi moral dan spiritual sebagai bekal reintegrasi sosial.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *