Ambon – Provinsi Maluku mencatatkan inflasi pada Januari 2026, yang didorong kuat oleh kenaikan harga pada sektor Makanan, Minuman, dan Tembakau, serta kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya. Data resmi Bank Indonesia menunjukkan bahwa dua kelompok pengeluaran ini menjadi kontributor utama laju inflasi bulanan.
Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau memberikan andil inflasi (mtm) terbesar mencapai 0,83 persen, menandakan adanya tekanan harga yang signifikan pada kebutuhan pokok. Sementara itu, kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya juga berkontribusi sebesar 0,13 persen terhadap inflasi.
Beberapa komoditas yang menjadi penyumbang utama inflasi di Maluku pada awal tahun ini adalah Ikan Layang dengan andil 0,47 persen dan Ikan Selar dengan andil 0,18 persen, menunjukkan lonjakan harga yang cukup terasa pada komoditas perikanan. Selain itu, Emas Perhiasan juga turut mendongkrak inflasi dengan andil 0,12 persen.
Meski demikian, laju inflasi di Provinsi Maluku tidak meroket lebih tinggi berkat deflasi yang terjadi pada kelompok Transportasi. Kelompok ini tercatat mengalami deflasi dengan andil negatif sebesar 0,30 persen.
Penahan inflasi ini didukung oleh penurunan harga pada sejumlah komoditas, di antaranya Tarif Pesawat yang mengalami deflasi sebesar -0,27 persen, Cabai Rawit dengan deflasi -0,11 persen, serta Wortel dengan andil deflasi -0,06 persen. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun ada kenaikan di beberapa sektor, penurunan harga pada transportasi dan beberapa produk hortikultura membantu menjaga stabilitas harga secara keseluruhan.
Dengan demikian, inflasi Maluku pada Januari 2026 sangat dipengaruhi oleh kenaikan harga kebutuhan pangan, khususnya ikan, serta harga emas perhiasan. Namun, penurunan tarif pesawat dan beberapa komoditas sayuran berhasil menjadi faktor penyeimbang yang menahan inflasi agar tidak semakin tinggi.
