Wahai, – Suara Manise
Suasana penuh khidmat dan damai menyelimuti Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai saat warga binaan menjalani ibadah di Gereja Ebenhaizer, Minggu (12/4). Kegiatan pembinaan kerohanian ini menjadi salah satu komitmen Lapas dalam membina mental dan spiritual warga binaan agar menjadi pribadi yang lebih baik.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menyampaikan bahwa kegiatan ibadah merupakan bagian penting dari proses pembinaan di dalam Lapas.
“Kami berkomitmen untuk memberikan pembinaan yang menyeluruh, tidak hanya dari sisi kemandirian, tetapi juga pembinaan mental dan spiritual. Ibadah seperti ini menjadi sarana bagi warga binaan untuk mendekatkan diri kepada Tuhan dan memperbaiki kualitas hidup mereka,” terangnya.
Senada, Kepala Subseksi Pembinaan, Merpaty Susana Mouw, menegaskan bahwa kegiatan keagamaan yang rutin dilaksanakan memberikan dampak positif terhadap perilaku warga binaan.
“Kami melihat adanya perubahan sikap yang lebih tenang, disiplin, dan penuh harapan pada warga binaan yang aktif mengikuti kegiatan kerohanian. Ini menjadi indikator keberhasilan pembinaan yang kami lakukan,” jelasnya.
Pada kesempatan tersebut, ibadah dipimpin oleh Pdt. Elchris Latuny. Dalam khotbahnya, ia menyampaikan firman Tuhan yang diambil dari Kisah Para Rasul 18:1–9 dengan tema “Paulus di Korintus”. Melalui firman tersebut, warga binaan diajak untuk tetap teguh dalam iman, tidak takut menghadapi masa lalu, serta percaya bahwa Tuhan selalu menyertai setiap proses perubahan hidup.
Dalam suasana sederhana namun penuh makna, warga binaan mengikuti rangkaian ibadah mulai dari pujian, doa, hingga perenungan firman dengan tertib dan penuh kesungguhan. Momen ini menjadi ruang refleksi bagi mereka untuk memperbaiki diri dan membangun harapan baru ke depan.
Di tempat terpisah, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Dwi Ricky Biantoro, memberikan apresiasi atas pelaksanaan pembinaan kerohanian di Lapas Wahai.
“Pembinaan kepribadian melalui pendekatan spiritual merupakan bagian penting dalam sistem pemasyarakatan. Kami mendukung penuh kegiatan seperti ini karena mampu membentuk karakter warga binaan menjadi lebih baik dan siap kembali ke masyarakat,” ungkapnya.
Melalui ibadah Minggu ini, diharapkan warga binaan tidak hanya menjalani masa pidana, tetapi juga mengalami proses pembaruan diri sehingga dapat kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik, beriman, dan bertanggung jawab.
