0-0x0-0-0#

Ambon – Gereja Protestan Maluku (GPM) Eben Haezar skip bersiap menggelar Sidang Jemaat ke-40, sebuah forum strategis yang diharapkan menjadi titik tolak penting bagi arah pelayanan gereja ke depan. Pra-sidang telah sukses dilaksanakan, mematangkan berbagai materi vital mulai dari program anggaran hingga rekomendasi yang akan dibahas dan diputuskan hari ini dalam persidangan.Minggu(22/02/226)

Ketua Majelis Jemaat (KMJ) Gereja Protestan Maluku (GPM) Ebenhaezer,Pdt Jonathan Siwalette mengungkapkan bahwa pra-sidang berfungsi sebagai wadah untuk memantapkan seluruh materi. “Kami tidak hanya mematangkan program anggaran, tetapi juga rekomendasi dan pesan persidangan. Semuanya telah didiskusikan secara mendalam agar siap diputuskan di sidang jemaat nanti,” ujarnya.

Mengacu pada Rencana Pembangunan Jemaat Jangka Menengah (RPJJ) Mad IBN tahun 2026-2030, lima isu krusial akan menjadi perhatian utama. Pertama, pendidikan formal gereja, dengan prioritas pada sekolah minggu dan pendidikan-pendidikan yang bernaung di bawah gereja. Kedua, peribadahan dan minat ibadah, yang harus dikelola dengan baik untuk menarik umat bersekutu.

Isu ketiga yang tak kalah penting adalah pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM) pelayan. Penyiapan SDM pelayan yang mumpuni menjadi kunci untuk menggerakkan pelayanan secara maksimal demi pertumbuhan jemaat. Sementara itu, lingkungan hidup dan penanggulangan bencana menempati prioritas keempat. Mengingat kondisi Ambon yang rawan longsor, isu ini menjadi sangat relevan, termasuk tanggung jawab gereja dalam pengelolaan persampahan bekerja sama dengan pemerintah kota.

Terakhir, pengembangan dan penataan kelembagaan juga menjadi fokus, memastikan organisasi gereja tertata sesuai kaidah yang berlaku. Selain itu, gumulan umat dan kebutuhan pelayanan senantiasa menjadi pembahasan utama untuk pemenuhan di masa mendatang.

Siwalette menegaskan bahwa pentingnya Kolaborasi dengan Pemerintah Kota Ambon juga ditekankan, khususnya dalam isu sosial seperti persampahan dan lingkungan. “Gereja memiliki tanggung jawab bersama pemerintah kota. Himbauan untuk membuang sampah pada tempatnya dan menjaga lingkungan di daerah rawan longsor akan terus kami suarakan,

Di tambahkan bahwa Sidang ke-40 ini diibaratkan seperti 40 tahun bangsa Israel di padang gurun, sebuah masa pemurnian sebelum memasuki tanah perjanjian. “Ini adalah titik awal bagi pemurnian dan pengembangan jemaat ke depan,” harapnya.

Nuansa kedaerahan Ambon akan sangat terasa dalam persidangan ini. Mulai dari tata ibadah, dekorasi, hingga pakaian panitia, semuanya akan mencerminkan kekayaan budaya Ambon. Dekorasi pembukaan akan menggunakan simbol “tungku” yang melambangkan Tuhan sebagai penopang utama dan sumber berkat bagi jemaat. Sementara itu, “cengkeh berputar” akan menjadi lambang kehidupan di Maluku dan kekhasan Gereja Protestan Maluku dengan nuansa etniknya.”imbuhnya

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *