Wahai, – Suara Manise

Ramadan 1447 Hijriah menjadi momentum bagi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai dalam memperkuat pembinaan kerohanian melalui metode pembelajaran halaqah. Kegiatan yang dipusatkan di Masjid At-Taubah ini diikuti seluruh Warga Binaan Muslim dengan pendampingan serta pengawasan petugas, Jumat (20/2).

Metode halaqah dipilih karena dinilai efektif dalam meningkatkan pemahaman serta kemampuan membaca Al-Qur’an para Warga Binaan. Dalam suasana Ramadan yang sarat nilai spiritual, pembelajaran dilakukan secara berkelompok dengan posisi duduk melingkar, menciptakan interaksi yang lebih intens dan suasana kebersamaan yang kuat.

Petugas Subseksi Pembinaan, Rahmatsyah Latif Ode, menjelaskan bahwa setiap kelompok dipandu seorang pembimbing yang membantu peserta melafalkan ayat-ayat suci dengan baik dan benar.

“Metode halaqah memungkinkan proses belajar yang lebih fokus. Peserta bisa langsung memperbaiki kesalahan bacaan, termasuk tajwid dan makhraj huruf. Suasananya lebih hidup karena ada diskusi dan saling menyimak,” ujarnya.

Ia menambahkan, keterbatasan fasilitas dan tenaga pengajar tidak menjadi hambatan berarti. Warga Binaan yang telah lebih dulu mahir membaca Al-Qur’an turut ambil bagian membantu rekan-rekannya yang masih belajar. Kolaborasi tersebut justru memperkuat rasa solidaritas dan kepedulian di antara mereka.

Antusiasme serupa disampaikan salah satu Warga Binaan berinisial LR. Baginya, kegiatan halaqah menjadi kesempatan berharga untuk memperbaiki kualitas bacaan sekaligus memperdalam pemahaman agama.

“Alhamdulillah, kegiatan ini sangat bermanfaat. Ini kesempatan bagi saya untuk memperbaiki tajwid dan kelancaran membaca. Teman-teman yang sudah lebih dulu paham juga sabar mengajari kami. Kami saling mendukung dan belajar bersama. Semoga ini menjadi bekal kebaikan bagi kami,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menegaskan bahwa pembinaan keagamaan bukan sekadar meningkatkan keterampilan membaca kitab suci, melainkan membangun karakter, kesadaran spiritual, serta moralitas Warga Binaan.

“Kami berharap kegiatan ini menjadi bekal bagi mereka untuk menjadi pribadi yang lebih baik, baik selama menjalani masa pembinaan maupun setelah kembali ke masyarakat. Program pembinaan kerohanian akan terus kami kembangkan agar manfaat spiritualnya berkelanjutan,” tegasnya.

Melalui kegiatan halaqah yang intensif selama Ramadan, Lapas Wahai berkomitmen menghadirkan pembinaan yang tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga menyentuh aspek batin dan karakter sebagai bagian dari proses rehabilitasi sosial yang utuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *