Wahai,– Suara Manise
Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai terus menunjukkan komitmennya dalam memperkuat pembinaan mental dan spiritual bagi Warga Binaan. Memasuki masa Pra-Paskah, Warga Binaan beragama Kristen mengikuti ibadah virtual perayaan Rabu Abu yang berlangsung khidmat di Gereja Ebenhaezer Lapas Wahai, Rabu (18/2).
Ibadah Rabu Abu yang menandai dimulainya masa pertobatan dan puasa selama 40 hari menjelang Paskah ini mengusung tema ketaatan hidup. Momentum tersebut menjadi refleksi awal bagi Warga Binaan untuk memperdalam iman sekaligus memperbaiki perilaku selama menjalani masa pembinaan.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menegaskan bahwa kegiatan keagamaan merupakan bagian penting dari pembinaan kepribadian berbasis spiritual.
“Kami memfasilitasi kebutuhan rohani seluruh Warga Binaan tanpa terkecuali. Dengan tema ketaatan, kami berharap masa Pra-Paskah ini benar-benar dimaknai sebagai proses perubahan diri yang nyata, baik dalam ketaatan kepada Tuhan maupun terhadap aturan yang berlaku di Lapas. Ini menjadi bekal mental saat mereka kembali ke tengah masyarakat,” ujar Tersih.
Ia juga menambahkan bahwa bulan ini menjadi momen penuh hikmah karena bertepatan dengan sejumlah perayaan keagamaan, mulai dari Imlek, Ramadan, hingga Pra-Paskah.
“Tahun ini menjadi harmoni kalender lintas iman. Semoga kita bersama-sama menciptakan lingkungan Lapas yang harmonis, humanis, dan saling menghormati,” harapnya.
Secara terpisah, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, mengapresiasi konsistensi Lapas Wahai dalam menghadirkan pembinaan keagamaan yang inklusif.
“Kami menekankan bahwa pembinaan kepribadian harus berjalan seiring dengan semangat toleransi. Ketika Warga Binaan Kristiani memaknai ketaatan melalui Rabu Abu, kami juga memastikan kesiapan Lapas dalam menyambut Ramadan agar Warga Binaan Muslim dapat beribadah dengan khusyuk. Momentum Pra-Paskah dan Ramadan ini diharapkan membentuk pribadi yang lebih baik, beriman, dan bertakwa,” ungkapnya.
Ibadah virtual tersebut dipimpin oleh Pendeta Daniel Alexander dari Yayasan Pendidikan Warga Binaan Cahaya Kasih. Dalam khotbahnya, ia menekankan bahwa masa Pra-Paskah adalah waktu yang tepat untuk meneladani ketaatan Kristus serta melatih disiplin diri dalam pertobatan dan perubahan perilaku.
Suasana ibadah berlangsung penuh haru dan kekhusyukan. Simbol abu yang diingatkan sebagai tanda bahwa manusia berasal dari debu menjadi refleksi mendalam bagi para Warga Binaan untuk memperbarui komitmen hidup, memperkuat iman, dan menapaki masa depan yang lebih baik setelah menjalani pembinaan.
