Wahai — Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai resmi ditetapkan sebagai salah satu satuan kerja pelaksana Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang akan mulai dioperasikan pada 1 April 2026. Kepastian ini disampaikan Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, Senin (9/2/2026).

Saat ini, Lapas Wahai tengah memasuki tahap persiapan pembangunan dapur MBG yang dijadwalkan berlangsung sepanjang Februari hingga Maret 2026. Tahap percepatan pembangunan tersebut menjadi fokus utama agar program prioritas nasional itu dapat berjalan sesuai target waktu.

“Per 1 April MBG sudah harus berjalan di Lapas Wahai. Karena itu, selama Februari dan Maret ini kami mendorongu percepatan pembangunan dapur sebagai langkah strategis agar program bisa terlaksana tepat waktu,” ujar Noya.

Ia menjelaskan, secara teknis pembangunan dapur MBG memiliki dua skema, yakni dibangun di dalam area lapas bagi satuan kerja yang memiliki lahan memadai, atau didirikan di luar area lapas namun tetap berdekatan. Mengingat keterbatasan lahan di Lapas Wahai, dapur MBG akan dibangun di luar lingkungan lapas dengan lokasi yang tetap mudah dijangkau.

“Karena keterbatasan lahan, dapur akan dibangun di luar, tetapi tetap berada tidak jauh dari Lapas Wahai,” jelasnya.

Dalam operasionalnya, dapur MBG akan melibatkan tenaga kerja dari warga binaan dan masyarakat sekitar. Namun, pelibatan warga binaan akan melalui proses seleksi ketat. Warga binaan yang dapat bekerja di dapur tidak boleh terlibat kasus narkotika maupun tindak pidana korupsi, serta telah menjalani minimal setengah masa pidana. Proses seleksi akan dilakukan melalui Sidang Tim Pengamat Pemasyarakatan (TPP).

“Sidang TPP belum kami lakukan karena masih menunggu progres pembangunan dapur. Diperkirakan sekitar 15 warga binaan akan dilibatkan dan mereka tetap berada dalam pengawasan saat bekerja setiap hari,” katanya.

Apabila jumlah tenaga kerja dari warga binaan belum mencukupi, pihak lapas akan menggandeng masyarakat sekitar sebagai tambahan tenaga kerja. Menurut Noya, langkah ini sejalan dengan tujuan program MBG yang tidak hanya meningkatkan kualitas gizi, tetapi juga membuka peluang kerja bagi masyarakat.

Selain Lapas Wahai, program MBG juga akan dijalankan di Lapas Wonreli. Lapas Wahai sendiri termasuk dalam gelombang pertama pelaksanaan program tersebut. Secara nasional, MBG menargetkan sekitar 200 lapas, dengan tahap awal mencakup 28 lapas di berbagai wilayah Indonesia, sebelum diperluas ke sekitar 170 lapas lainnya.

“Tantangan sekaligus tujuan utama pelibatan lapas dalam program ini adalah memastikan kehadiran lapas memberi manfaat nyata bagi masyarakat sekaligus mendukung kebijakan pemerintah,” pungkas Noya.

Terkait standar upah bagi pekerja dapur MBG, pihak lapas menyatakan skema pengupahan masih akan dibahas bersama para pemangku kepentingan untuk memastikan besaran yang layak dan sesuai ketentuan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *